
Perubahan iklim merupakan salah satu tantangan global yang memerlukan upaya mitigasi dari berbagai sektor. Permasalahan ini cukup menarik perhatian masyarakat umum untuk ikut berpartisipasi dan menyuarakan dampak dari perubahan iklim. Terjadinya perubahan iklim memberikan dampak serius yang nyata terhadap kenaikan permukaan air laut, terganggunya ekosistem, serta penurunan dan hilangnya keanekaragaman hayati. Dalam mitigasi perubahan iklim, khususnya pada lahan basah seperti mangrove, perlu untuk dilakukan karena perannya yang penting dalam menyerap karbon (D. Were et al., 2019; Baharizki et al., 2024). Menurut Imburi et al. (2024) dalam Ramadhan & Sofyana (2025), kawasan mangrove mampu menyerap karbon hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan terestrial.

Keberadaan ekosistem mangrove yang vital berbanding terbalik dengan kondisi ekosistem mangrove saat ini, khususnya di Indonesia. Kondisi ekosistem mangrove saat ini sangat memprihatinkan karena mendapatkan berbagai ancaman, salah satunya adalah alih fungsi lahan. Konversi lahan mangrove untuk pertanian, perkebunan, budidaya tambak, pemukiman dan berbagai pembangunan lainnya menjadi penyebab rusaknya kawasan mangrove. Penjarahan menjadi salah satu bentuk kerusakan ekosistem yang hingga kini masih terus saja terjadi. Salah satu contohnya pada kasus pengalihfungsian hutan mangrove secara ilegal di kota Batam, Kepulauan Riau, yang dilakukan demi kepentingan bisnis (Wiyoga, 2023). Keegoisan manusia dalam mengabaikan fungsi ekologis mangrove hanya untuk keuntungan jangka pendek semakin mempercepat laju degradasi ekosistem ini. Apabila dibiarkan tanpa adanya intervensi, kerusakan ini akan semakin meluas dan berdampak serius terhadap keseimbangan lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan suatu program rehabilitasi yang tepat dan efektif.
Kegiatan rehabilitasi mangrove yang sesuai dapat menjadi solusi dalam mengembalikan fungsi mangrove dan mitigasi iklim serta mengembalikan perannya dalam menyerap karbon. Oleh sebab itu, untuk mengembalikan fungsinya maka diperlukan upaya preventif melalui silvikultur intensif. Program Silvikultur Intensif (SILIN) merupakan program rehabilitasi yang bertujuan meningkatkan produktivitas dan ketahanan ekosistem melalui manipulasi lingkungan biofisik, pemuliaan tanaman, dan pengendalian hama maupun penyakit. Hasil penelitian Wiyono et al. (2018) dan Nugroho (2015) menunjukkan bahwa SILIN secara efektif meningkatkan tumbuh tanaman. Dalam rehabilitasi mangrove sendiri, SILIN dapat menjadi pendekatan adaptif yang mengintegrasikan teknologi budidaya intensif dengan prinsip-prinsip ekologi pesisir sehingga mempercepat pemulihan kawasan yang terdegradasi. Hal ini dilakukan dengan memilih jenis mangrove yang sesuai dengan kondisi biofisik setempat, diikuti dengan teknik penanaman yang tepat, serta pemantauan rutin.
Pilar silvikultur intensif terdiri dari 3 yaitu kegiatan pemuliaan pohon, manipulasi lingkungan, pencegahan hama dan penyakit. Salah satu silvikultur intensif yang bisa diterapkan agar tanaman mangrove mampu sustained yaitu dengan pemuliaan pohon. Pemuliaan pohon menjadi langkah krusial dalam memastikan ketahanan spesies mangrove terhadap perubahan iklim. Proses ini mencakup seleksi genetik terhadap individu yang memiliki ketahanan terhadap salinitas tinggi, banjir pasang, dan fluktuasi iklim ekstrim. Menurut Leksono et al., (2020), pemuliaan pohon bukan hanya meningkatkan produktivitas tegakan, tetapi juga memperkuat stabilitas ekosistem dan fungsi lindung hutan. Kegiatan pemuliaan mangrove saat ini masih terbatas, namun memiliki peluang besar untuk diterapkan. Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam tahapan memuliakan, yaitu menyeleksi individu-individu mangrove berdasarkan beberapa kriteria, antara lain diameter batang, tinggi batang bebas cabang, dan jumlah akar tunjang yang dapat dijadikan sebagai indikator produktivitas dan stabilitas ekologis.
Dari hasil pemuliaan ini dapat dilanjutkan dengan menjadikan sumber daya genetik yang dikonservasi agar dapat membantu proses pembentukan suatu ekosistem mangrove, serta mempertahankan fungsi ekosistem mangrove yang sesuai dengan berbagai kebutuhan. Suriadi et al. (2024), menyebutkan bahwa konservasi sumber daya genetik dari ekosistem mangrove dapat mempengaruhi produktivitasnya dengan beberapa cara: (1) keanekaragaman sumber daya genetik populasi yang tinggi akan meningkatkan kemungkinan spesies tersebut akan resisten terhadap perubahan iklim; (2) kuatnya sumber daya genetik berpengaruh pada kemampuan reproduksi dan regenerasi mangrove; (3) mangrove dengan keragaman genetik yang lebih tinggi, memiliki sistem pertahanan yang lebih baik serangan hama dan penyakit, dan pemicu stres lingkungan lainnya; (4) kesehatan sumber daya genetik (sehat) dapat mendukung berbagai fungsi ekosistem mangrove secara keseluruhan.

Program rehabilitasi mangrove juga harus memperhitungkan keterlibatan masyarakat secara aktif. Sebuah studi pengabdian oleh Wening et al., (2023) mencatat bahwa penanaman 600 bibit mangrove oleh mahasiswa dan masyarakat lokal di Muara Gembong berhasil mengurangi abrasi dan meningkatkan kesadaran lingkungan. Kegiatan ini tidak hanya berorientasi ekologi, tetapi juga mendorong kepedulian sosial dan dapat dijadikan model kolaborasi dalam pelaksanaan SILIN. Kementerian LHK dalam Status Hutan dan Kehutanan Indonesia 2022 mencatat bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak hanya bergantung pada teknik penanaman, tetapi juga pada kebijakan yang memfasilitasi kerjasama multipihak, termasuk peran swasta dan masyarakat adat (KLHK, 2022). Maka, keberlanjutan program seperti SILIN perlu dikawal oleh regulasi yang adaptif dan berbasis data.
Daftar Pustaka:
Baharizki, F. A., Hendriyanto, V., Putra, P. F. M., Tumanggor, T., Sitanggang, D. T., & Putri, K. S. (2024). Pemanfaatan Lahan Basa Buatan Sebagai Solusi Rekayasa untuk Penyerapan Karbon. Jurnal Himasapta, 8(3): 157-162.
Leksono, B., et al. (2020). Kumpulan Pemikiran 17 Profesor Riset untuk Pembangunan Lingkungan Hidup dan Kehutanan. KLHK.
Nugroho, Y. (2015). Aplikasi silvikultur intensif untuk pertumbuhan tanaman pengayaan pada lahan reklamasi tambang batubara. Jurnal Hutan Tropis, 3(3), 241-246.
Ramadhan, F., & Sofyana, J. (2025). Pengaruh Dinamika Perubahan Lahan dan Aktivitas Manusia Terhadap Degradasi Mangrove serta Implikasi Terhadap Upaya Konservasi Pesisir: Review Literatur. Edusola: Journal Education, Sociology and Law, 1(1): 486-496.
Suriadi, L. M., Denya, N. P., Shabrina, Q. A., Agustina, G., Kuspraningrum, E., & Asufie, K. N. (2024). Perlindungan Sumber Daya Generik Ekosistem Mangrove Untuk Konservasi Lingkungan dan Keseimbangan Ekosistem. Jurnal Analisis Hukum, 7(2): 234-253.
Wening, W. K., Satpatmantya, K. S. B., & Kurniadi, N. T. (2023). Penanaman Mangrove sebagai Upaya Pencegahan Abrasi di Pesisir Pantai Bahagia. Jurnal Lentera Pengabdian, 1(1), 53–58.
Wiyoga, P. (2023). Alih fungsi hutan mangrove di Batam terus terjadi. Kompas.id. https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/10/17/hutan-mangrove-batam-terus-terkikis
Wiyono, W., et al. (2021). Penerapan Teknik Silvikultur Intensif pada Hutan Rakyat di Gunungkidul. Jurnal Pengelolaan Hutan.