Persemaian dan Urgensinya

Apasih Persemaian Itu?

Persemaian merupakan areal yang sengaja dibangun untuk memproduksi bibit sehingga dapat menghasilkan semai dengan mutu baik, siap ditanam di lapangan, dan nantinya dapat meningkatkan keberhasilan tanam. Mulai dari persemaian inilah kita dapat memberikan berbagai perlakuan pada benih sehingga dapat menjadi bibit dengan adaptabilitas tinggi di lapangan.

Dalam persiapan bahan pertanaman, persemaian dibuat untuk:

  • Mendapatkan bibit siap tanam dengan kualitas dan kuantitas sesuai kebutuhan penanaman.
  • Mendapatkan bibit dengan pertumbuhan baik dan sehat melalui tahapan seleksi.
  • Menjamin ketersediaan bibit pada waktu yang tepat sehingga dapat mendukung rencana penanaman.

Nahh setelah mengetahui pengertian dan tujuan persemaian, dalam bangunannya persemaian terbagi menjadi persemaian sementara dan persemaian permanen. read more

KARIB 2025 Ruang Kolaboratif: Sinergi Silvikulturis dalam Membangun Koneksi dan Kreativitas

Keakraban Rimbawan atau yang biasanya disebut KARIB adalah salah satu program kerja dari Komisi Jaringan dan Kerjasama Himpunan Mahasiswa Budidaya Hutan (HIMABA). Tahun ini KARIB menggandeng Tree Grower Community (TGC) dari Institut Pertanian Bogor yang dilaksanakan pada hari Sabtu, 26 April 2025. HIMABA dan TGC merupakan dua organisasi mahasiswa yang memiliki fokus pada bidang silvikultur. Sebagai bagian dari civitas akademik yang aktif di bidang kehutanan, keduanya memiliki peran penting dalam mengembangkan kapasitas anggotanya melalui berbagai program berbasis keilmuan, keterampilan, dan kepemimpinan. Tema yang diangkat pada program kerja ini adalah Ruang Kolaboratif: Sinergi Silvikulturis dalam Membangun Koneksi dan Kreativitas. KARIB dilaksanakan dengan berbagai rangkaian acara. read more

Restorasi Lahan Karst

Sumber : depositphotos.com

Lahan karst memiliki keunikan tersendiri, terutama karena tersusun dari batuan gamping (CaCO₃) yang mudah larut. Pembentukan lahan ini disebabkan oleh proses pelarutan kimiawi antara air hujan yang bersifat asam dan karbon dioksida (CO₂) di atmosfer, membentuk asam karbonat (H₂CO₃) yang melarutkan batuan kapur secara bertahap. Pelarutan yang berlangsung terus-menerus dalam jangka waktu lama membentuk bentang alam khas baik di permukaan (eksokarst) maupun di bawah permukaan (endokarst). Akibat proses  pelarutan  akan  terbentuk  lorong-lorong  secara  vertikal dan horizontal dengan  berbagai  variasi  ukuran dan bentuk  yang  saling  terhubung,disebut sebagai   sistem   perguaan   (cave   system) atau drainase   bawah   tanah (Nugroho et al., 2020) read more

Mengenal Karbon Organik Tanah

Karbon organik tanah merupakan komponen penting dalam struktur dan fungsi tanah. Karbon organik ini terbentuk dari residu tanaman, hewan, dan mikroorganisme, serta dapat berubah menjadi berbagai fraksi karbon yang berbeda dalam waktu yang beragam, mulai dari karbon labil yang terbentuk dalam waktu singkat hingga karbon stabil yang memerlukan waktu lama untuk terbentuk (Prasetya et al., 2022). Karbon organik tanah dapat memperbaiki  struktur tanah, meningkatkan kapasitas tanah untuk menahan air, dan mendukung aktivitas biologi tanah yang esensial bagi pertumbuhan tanaman sehingga keberadaannya merupakan komponen yang penting. Selain itu, karbon organik juga berperan dalam siklus karbon global, di mana tanah berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon, sehingga penting dalam konteks perubahan iklim (Siringoringo, 2014). read more

Efektivitas Pohon Asam dan Tabebuya sebagai Tanaman Jalur Hijau Jalan Affandi

Memanasnya Kota Yogyakarta disebabkan tingginya gas emisi (komponen gas-gas dan senyawa buangan yang dibuang di udara bebas) yang lepas di udara. Transportasi merupakan penyumbang utama pencemaran udara di daerah perkotaan. Emisi timbal dan karbon monoksida (CO) di daerah perkotaan sebagian besar berasal dari daerah lalu lintas yang padat.  Oleh karena itu, diperlukan peningkatan  kualitas  dan  kuantitas  ruang  terbuka  hijau.  Salah  satu  bentuk  ruang terbuka hijau yang diperlukan adalah koridor jalan yang berupa jalur hijau. read more

AGROFORESTRI SAWIT JADI SOLUSI ATAU HANYA ILUSI?

Sumber: jangkabenah.org

Perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) di Indonesia terus berkembang sangat pesat. Dari 14,03 juta hektar luas tanaman sawit di Indonesia, sekitar 2,5 juta ha terindikasi berada dalam kawasan hutan. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan luas areal perkebunan, peningkatan total produksi dan nilai ekspor yang terus meningkat setiap tahunnya. Tercatat tahun 2022 luas areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia sudah mencapai seluas 15.34 juta hektare  (BPS, 2022).  Kelapa sawit mampu meningkatkan perekonomian rumah tangga dan perekonomian daerah, sehingga menarik perhatian masyarakat dan pemerintah untuk mengembangkannya. Adanya  peningkatan  permintaan  dunia  akan  minyak  kelapa  sawit  menyebabkan maraknya pembukaan perkebunan kelapa sawit baru di hutan Indonesia. read more

Forester In Action #7 : Penanaman Bakau sebagai Aksi Tanggap Perubahan Iklim

          Kegiatan Forester in Action (FIA) merupakan perwujudan dari poin pengabdian pada masyarakat yang akan dilaksanakan oleh anggota internal HIMABA. Forester in Action (FIA) kali ini menjadi edisi ke-7 dengan mengangkat tema “Silviculture in Preserving Coastal Ecosystems”  yang berarti melakukan praktik silvikultur untuk menjaga keberlanjutan ekosistem pantai, melindungi keanekaragaman hayati, dan memelihara fungsi ekosistem secara keseluruhan untuk manfaat jangka panjang manusia dan lingkungan. Penanaman bakau  menjadi rangkaian kegiatan utama dalam Forester in Action (FIA) kali ini. read more

NIKEL DIEKSPANSI, HUTAN SULAWESI DEFORESTASI

Volume dan Nilai Ekspor Nikel Indonesia (2013-2023)

                                          Sumber: Badan Pusat Statistik                       

             Nikel merupakan salah satu mineral bahan tambang yang penting. Nikel banyak digunakan di industri otomotif, pembuatan besi, stainless steel, dan lain-lain. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sepanjang 2023 Indonesia mengekspor nikel seberat 1,26 juta ton, melonjak 62,33% dibanding 2022 (year-on-year/yoy). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan cadangan nikel dalam negeri sebesar 11,7 miliar ton atau setara dengan 52 persen cadangan nikel dunia. Komoditas untuk bahan baku baterai ini tersebar mulai dari Sulawesi, Maluku Utara, hingga Papua. Cadangan nikel di Sulawesi diperkirakan mencapai 2,6 miliar ton, Papua 60 juta ton, sedangkan Maluku mencapai 1,4 miliar ton. read more

Implementasi dan Urgensi Food Estate di Indonesia

Pemerintah Indonesia berupaya mewujudkan tujuan ke-2 dikombinasikan tujuan ke-13 Sustainable Development Goals (SDGs) diantaranya mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan gizi yang baik, dan meningkatkan pertanian berkelanjutan serta penanganan perubahan iklim. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah Indonesia melalui proyek Food Estate. Food estate merupakan sebuah konsep atau program pengembangan pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan secara besar-besaran dengan mengalokasikan lahan pertanian dalam skala yang luas (lebih dari 25 hektare) dan memanfaatkan teknologi modern (Faridawaty dan Mahrita, 2023). Ketahanan pangan menjadi salah satu kondisi ideal di mana semua orang mempunyai akses secara fisik, sosial dan ekonomi pada bahan pangan aman dan mempunyai gizi yang cukup bagi memenuhi kebutuhan hidupnya pada setiap waktu.  read more

MENILIK REHABILITASI HUTAN DI INDONESIA

Sumber : madiunpos.com

Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) merupakan upaya untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan  peranannya  dalam  mendukung  sistem  penyangga  kehidupan  tetap  terjaga (Palupa 2023). Awalnya kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dikenal dengan istilah “Penghijauan dan Reboisasi” yang dilaksanakan pertama kali di Kabupaten Karangasem pada tahun 1977 (Hermawan et al, 2016). Salah satu faktor yang melatarbelakangi kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan, yakni adanya alih konversi lahan secara besar-besaran sebagai akibat dari berbagai masalah yang dihadapi seperti kemiskinan, kelaparan, dan kondisi sosial politik yang sedang kacau pada awal tahun 1970 (Tsujino et al., 2016). Kegiatan alih konversi lahan berdampak pada deforestasi dan degradasi hutan yang berujung menurunnya fungsi lahan untuk dapat berproduksi secara lestari. Oleh karena itu mutlak diperlukan upaya rehabilitasi hutan dan lahan pada areal yang kritis. read more