
Gambar 1. Banjir di kawasan Dadok Tunggul Hitam, Padang, Sumatera Barat (Sumber: Antara foto).
Fenomena banjir besar yang berulang di berbagai provinsi di Sumatera dalam lima tahun terakhir menunjukkan semakin seriusnya dampak krisis iklim terhadap keseimbangan ekosistem daratan dan hutan tropis. Anomali iklim berupa peningkatan intensitas curah hujan ekstrem (extreme rainfall events), naiknya suhu permukaan laut, serta perubahan pola monsoun Asia – Australia telah diidentifikasi sebagai pemicu utama meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan longsor (BMKG, 2024). Sebagai salah satu pulau dengan hutan tropis tersisa paling luas di Indonesia, kini Sumatera menghadapi tekanan ekologis yang semakin berat. Tekanan yang dihadapi merupakan gabungan antara degradasi hutan, ekspansi perkebunan skala besar, dan hilangnya tutupan vegetasi yang menyebabkan landscape menjadi lebih rentan terhadap limpasan permukaan ketika curah hujan meningkat tajam.








