Arsip:

SILVEDGE

Ekosistem Tertekan, Banjir Meningkat: Sumatera Jadi Contoh Nyata Dampak Krisis Iklim

Gambar 1. Banjir di kawasan Dadok Tunggul Hitam, Padang, Sumatera Barat (Sumber: Antara foto).

Fenomena banjir besar yang berulang di berbagai provinsi di Sumatera dalam lima tahun terakhir menunjukkan semakin seriusnya dampak krisis iklim terhadap keseimbangan ekosistem daratan dan hutan tropis. Anomali iklim berupa peningkatan intensitas curah hujan ekstrem (extreme rainfall events), naiknya suhu permukaan laut, serta perubahan pola monsoun Asia – Australia telah diidentifikasi sebagai pemicu utama meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan longsor (BMKG, 2024). Sebagai salah satu pulau dengan hutan tropis tersisa paling luas di Indonesia, kini Sumatera menghadapi tekanan ekologis yang semakin berat. Tekanan yang dihadapi merupakan gabungan antara degradasi hutan, ekspansi perkebunan skala besar, dan hilangnya tutupan vegetasi yang menyebabkan landscape menjadi lebih rentan terhadap limpasan permukaan ketika curah hujan meningkat tajam. read more

Tesso Nilo di Ambang Krisis: Gajah Tersingkir, Hutan Terfragmentasi, dan Ancaman Perubahan Iklim

Gambar 1. Perkebunan Sawit di Taman Nasional Tesso Nilo

Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) merupakan taman nasional di Provinsi Riau yang memiliki salah satu bentang alam hutan dataran rendah Sumatra yang dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di Asia Tenggara. Kawasan seluas 83.068 hektare ini ditetapkan sebagai taman nasional untuk melindungi ekosistem khas lowland rainforest yang menyimpan ratusan jenis flora dan fauna. Menurut World Wildlife Fund (WWF), Tessi Nili merupakan rumah dari 3% mamalia di dunia yang didalamnya termasuk satwa dilindungi seperti gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) dan harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae). Namun, dalam dua dekade terakhir, Tesso Nilo mengalami degradasi paling masif dalam sejarah pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia. read more

Konversi Hutan Alam untuk Food Estate: Tantangan Silvikultur dalam Menyeimbangkan Produksi dan Konservasi

Gambar 1. Hutan Papua yang dibabat untuk lahan food estate (Sumber: Yayasan Pustaka Bentala Rakyat)

Program food estate yang digalakkan pemerintah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memunculkan kekhawatiran terkait percepatan konversi hutan alam, terutama di Kalimantan dan Papua. Banyak laporan investigasi menunjukkan bahwa sebagian lokasi food estate dibangun pada kawasan berhutan primer atau lahan gambut yang memiliki fungsi ekologis penting. Hal ini menimbulkan konflik antara kebutuhan peningkatan produksi pangan nasional dan upaya mempertahankan jasa ekosistem hutan. Menurut laporan Forest Watch Indonesia (FWI, 2023), laju kehilangan hutan alam Indonesia terus meningkat di wilayah yang menjadi target perluasan food estate, memperlihatkan lemahnya screening ekologis dan perencanaan spasial dalam implementasi program tersebut. read more

PEMANFAATAN SILVIKULTUR ADAPTIF UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS HUTAN PRODUKSI DI INDONESIA

Kawasan hutan memiliki peran yang penting dalam menjaga kelestarian lingkungan hingga keseimbangan ekosistem. Pada tahun 2023, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa luas hutan di Indonesia adalah 120,4 juta hektare (Yonatan, 2024). Kekayaan hutan tersebut meliputi berbagai jenis kawasan, termasuk hutan produksi, yang menempati setengah dari total luas hutan. Hutan ini juga menjadi penggerak perekonomian negara, di mana sekitar 60 juta pendapatan dan kebutuhan penduduk bergantung padanya (YKAN, 2018). Namun, perubahan iklim mengancam kelestarian dan produktivitas kawasan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan metode pengelolaan hutan yang adaptif serta berkelanjutan agar dapat menjaga fungsi ekologis dan mendukung produktivitas hutan produksi. read more

Implikasi Pertambangan terhadap Praktik Silvikultur dan Rehabilitasi Hutan di Raja Ampat

Indonesia memiliki kekayaan alam dengan nilai tinggi yang berpotensi besar dalam pengembangan pariwisata, terutama di sektor ekowisata. Jenis wisata ini kini semakin diminati karena menekankan pada aspek pelestarian lingkungan, edukasi lingkungan, peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal, serta penghormatan terhadap budaya setempat (Nugroho dan Negara, 2015). Salah satu destinasi wisata yang terkenal hingga ke mancanegara yaitu Raja Ampat, menurut Parinusa dkk., (2019) menyatakan bahwa Raja Ampat terdapat taman laut terbesar di Indonesia, memiliki keanekaragaman biota laut yang tinggi sehingga dikenal sebagai lokasi selam scuba yang eksotis. Raja  Ampat  dikenali  dengan  keindahan  laut  dan  pemandangannya.  Pulau  ini  diakui sebagai  rumah  bagi  keanekaragaman  hayati  terumbu  karang terbesar  di  dunia.  Dengan  lebih dari  550  varietas  karang  yang  berbeda,  700  jenis  moluska,  dan  1.427  spesies  ikan  yang berbeda,  wilayah  ini  merupakan  pusat  keanekaragaman  hayati  laut  yang  signifikan.  75%  dari  seluruh  spesies  karang  yang  diketahui  dapat  ditemukan  di  perairan sekitar Kepulauan Raja Ampat, yang merupakan rumah bagi beberapa spesies paling beragam di dunia (Oscar dan Yusmar, 2025) read more

Optimalisasi Silvikultur Intensif, Kuatkan Mangrove sebagai Penjaga Iklim

Perubahan iklim merupakan salah satu tantangan global yang memerlukan upaya mitigasi dari berbagai sektor. Permasalahan ini cukup menarik perhatian masyarakat umum untuk ikut berpartisipasi dan menyuarakan dampak dari perubahan iklim. Terjadinya perubahan iklim memberikan dampak serius yang nyata terhadap kenaikan permukaan air laut, terganggunya ekosistem, serta penurunan dan hilangnya keanekaragaman hayati. Dalam mitigasi perubahan iklim, khususnya pada lahan basah seperti mangrove, perlu untuk dilakukan karena perannya yang penting dalam menyerap karbon (D. Were et al., 2019; Baharizki et al., 2024). Menurut Imburi et al. (2024) dalam Ramadhan & Sofyana (2025), kawasan mangrove mampu menyerap karbon hingga lima kali lebih banyak dibandingkan hutan terestrial. read more

Fenomena Hujan Es di Jogja: Dampak Perubahan Iklim

Sumber: Espos.id

Pada tanggal 11 Februari 2025, wilayah Yogyakarta dikejutkan oleh fenomena hujan es yang cukup signifikan. Kejadian ini, meskipun tidak sepenuhnya asing, menimbulkan pertanyaan mengenai frekuensi dan intensitasnya yang mungkin dipengaruhi oleh perubahan iklim global. Hujan es terbentuk dalam awan cumulonimbus yang memiliki arus udara naik (updraft) yang kuat, mampu menahan partikel air di lapisan atmosfer yang sangat dingin hingga membeku menjadi es dengan berbagai ukuran sebelum akhirnya jatuh ke permukaan bumi (Wallace & Hobbs, 2006). Perubahan iklim, yang salah satu pemicunya adalah deforestasi atau kerusakan hutan, dapat memengaruhi pola cuaca ekstrem seperti ini. Hutan memiliki peran krusial dalam menjaga keseimbangan hidrologis dan termal suatu wilayah. Kerusakan hutan mengurangi kemampuan lahan dalam menyerap karbon dioksida (CO2), gas rumah kaca utama penyebab pemanasan global, serta mengganggu siklus air yang berpotensi meningkatkan instabilitas atmosfer dan frekuensi kejadian cuaca ekstrem (IPCC, 2021). read more

Restorasi Lahan Karst

Sumber : depositphotos.com

Lahan karst memiliki keunikan tersendiri, terutama karena tersusun dari batuan gamping (CaCO₃) yang mudah larut. Pembentukan lahan ini disebabkan oleh proses pelarutan kimiawi antara air hujan yang bersifat asam dan karbon dioksida (CO₂) di atmosfer, membentuk asam karbonat (H₂CO₃) yang melarutkan batuan kapur secara bertahap. Pelarutan yang berlangsung terus-menerus dalam jangka waktu lama membentuk bentang alam khas baik di permukaan (eksokarst) maupun di bawah permukaan (endokarst). Akibat proses  pelarutan  akan  terbentuk  lorong-lorong  secara  vertikal dan horizontal dengan  berbagai  variasi  ukuran dan bentuk  yang  saling  terhubung,disebut sebagai   sistem   perguaan   (cave   system) atau drainase   bawah   tanah (Nugroho et al., 2020) read more

Mengenal Karbon Organik Tanah

Karbon organik tanah merupakan komponen penting dalam struktur dan fungsi tanah. Karbon organik ini terbentuk dari residu tanaman, hewan, dan mikroorganisme, serta dapat berubah menjadi berbagai fraksi karbon yang berbeda dalam waktu yang beragam, mulai dari karbon labil yang terbentuk dalam waktu singkat hingga karbon stabil yang memerlukan waktu lama untuk terbentuk (Prasetya et al., 2022). Karbon organik tanah dapat memperbaiki  struktur tanah, meningkatkan kapasitas tanah untuk menahan air, dan mendukung aktivitas biologi tanah yang esensial bagi pertumbuhan tanaman sehingga keberadaannya merupakan komponen yang penting. Selain itu, karbon organik juga berperan dalam siklus karbon global, di mana tanah berfungsi sebagai penyerap dan penyimpan karbon, sehingga penting dalam konteks perubahan iklim (Siringoringo, 2014). read more

Efektivitas Pohon Asam dan Tabebuya sebagai Tanaman Jalur Hijau Jalan Affandi

Memanasnya Kota Yogyakarta disebabkan tingginya gas emisi (komponen gas-gas dan senyawa buangan yang dibuang di udara bebas) yang lepas di udara. Transportasi merupakan penyumbang utama pencemaran udara di daerah perkotaan. Emisi timbal dan karbon monoksida (CO) di daerah perkotaan sebagian besar berasal dari daerah lalu lintas yang padat.  Oleh karena itu, diperlukan peningkatan  kualitas  dan  kuantitas  ruang  terbuka  hijau.  Salah  satu  bentuk  ruang terbuka hijau yang diperlukan adalah koridor jalan yang berupa jalur hijau. read more