
Gambar 1. Perkebunan Sawit di Taman Nasional Tesso Nilo
Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) merupakan taman nasional di Provinsi Riau yang memiliki salah satu bentang alam hutan dataran rendah Sumatra yang dengan tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di Asia Tenggara. Kawasan seluas 83.068 hektare ini ditetapkan sebagai taman nasional untuk melindungi ekosistem khas lowland rainforest yang menyimpan ratusan jenis flora dan fauna. Menurut World Wildlife Fund (WWF), Tessi Nili merupakan rumah dari 3% mamalia di dunia yang didalamnya termasuk satwa dilindungi seperti gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) dan harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae). Namun, dalam dua dekade terakhir, Tesso Nilo mengalami degradasi paling masif dalam sejarah pengelolaan kawasan konservasi di Indonesia.

Gambar 2. Data Laju Deforestasi di Tesso Nilo
Analisis citra satelit dari Global Forest Watch menunjukkan bahwa antara 2009 dan 2023, kawasan hutan primer di Tesso Nilo kehilangan sekitar 78% dari tutupan awalnya, sebagai akibat dominasi pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit ilegal dan aktivitas perambahan lainnya. Menurut data, pada tahun 2024 Taman Nasional Tesso Nilo kehilangan sekitar 850 Ha lahan hutan primer, sehingga hanya tersisa 10 % luasan hutan primer dari luas awal kawasan. Dampak dari degradasi dan fragmentasi ini nyata dirasakan pada populasi gajah dan kondisi ekologis di TNTN. Habitat yang semakin terpecah menghambat koridor migrasi, akses pakan alami, dan ruang jelajah sehingga satwa besar seperti gajah terpaksa memasuki lahan manusia, memicu konflik manusia dan satwa liar (human elephant conflict/ HEC). Konflik ini tidak hanya menimbulkan kerugian bagi masyarakat sekitar seperti kerusakan tanaman dan lahan tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa di kawasan konservasi (Malta et al., 2025).
Di saat yang sama, konversi hutan primer menjadi kebun sawit dan lahan terbuka secara masif berkontribusi terhadap krisis iklim lokal dan global. Dilansir dari Mongabay, luas kawasan yang terkonversi menjadi perkebunan sawit sebesar 65.939 Ha dari total luas 83.068 Ha. Hilangnya tutupan hutan yang berfungsi sebagai penyimpan karbon alami, regulator hidrologi, dan penyeimbang mikroklimat berakibat pada penurunan kemampuan kawasan dalam menyerap CO₂, mempertahankan kelembaban tanah, dan menjaga kestabilan iklim mikro. Efek negatif ini diperparah ketika deforestasi disertai kebakaran atau degradasi lahan, sehingga emisi karbon naik, biodiversitas menurun, dan ketahanan ekosistem melemah. Banyak habitat yang tersisa menjadi rapuh menghadapi fluktuasi iklim, mempercepat kerusakan ekologis dan merusak potensi pemulihan alami.
Dengan demikian, konflik sawit, hutan, dan satwa di Tesso Nilo bukan hanya persoalan lokal, hal ini mencerminkan hubungan kompleks antara konversi lahan, kehilangan habitat, konflik sosial ekologi, dan penurunan fungsi ekosistem yang terkait langsung dengan krisis perubahan iklim. Solusinya juga harus bersifat holistic dengan melindungi sisa hutan, memulihkan habitat, menegakkan hukum terhadap alih fungsi lahan ilegal, serta mendesain kebijakan adaptasi iklim dan konservasi yang menjamin keberlangsungan satwa, ekosistem, dan komunitas manusia di sekitar taman nasional.
Daftar Pustaka
Global Forest Watch. (2025). Tesso Nilo Deforestation Rates and Statistic. Diakses dari https://www.globalforestwatch.org/dashboards/aoi/61d8c589c1fc59001a040d33/?map=eyJjYW5Cb3VuZCI6dHJ1ZX0%3D&widget=treeLossPct
Hartono, B. (2004). WWF welcomes Indonesian government’s declaration of Tesso Nilo National Park. World Wildlife Fund. Diakses dari https://wwf.panda.org/wwf_news/?14596/ WWF-welcomes-Indonesian-governments-declaration-of-Tesso-Nilo-National-Park
Malta, R. F., Agustin, H., & Gumilar, G. (2025). Communication Strategies for Human-Elephant Conflict Mitigation in Tesso Nilo National Park: Multi-Stakeholder Approach. KOMUNIKA, 8(1).
Raman, S. (2024). Satellite data show bursts of deforestation continue in Indonesian national park. Mongabay. Diakses dari https://news.mongabay.com/2024/11/satellite-data-show-bursts-of-deforestation-continue-in-indonesian-national-park/