
Gambar 1. Banjir di kawasan Dadok Tunggul Hitam, Padang, Sumatera Barat (Sumber: Antara foto).
Fenomena banjir besar yang berulang di berbagai provinsi di Sumatera dalam lima tahun terakhir menunjukkan semakin seriusnya dampak krisis iklim terhadap keseimbangan ekosistem daratan dan hutan tropis. Anomali iklim berupa peningkatan intensitas curah hujan ekstrem (extreme rainfall events), naiknya suhu permukaan laut, serta perubahan pola monsoun Asia – Australia telah diidentifikasi sebagai pemicu utama meningkatnya kejadian bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan longsor (BMKG, 2024). Sebagai salah satu pulau dengan hutan tropis tersisa paling luas di Indonesia, kini Sumatera menghadapi tekanan ekologis yang semakin berat. Tekanan yang dihadapi merupakan gabungan antara degradasi hutan, ekspansi perkebunan skala besar, dan hilangnya tutupan vegetasi yang menyebabkan landscape menjadi lebih rentan terhadap limpasan permukaan ketika curah hujan meningkat tajam.
Krisis iklim memperburuk kondisi ekologis yang sudah rapuh akibat deforestasi jangka panjang. Berdasarkan laporan KLHK (2023), Sumatera telah kehilangan lebih dari 55% tutupan hutannya sejak tahun 1990, terutama akibat konversi hutan menjadi perkebunan sawit, HTI, dan pemukiman. Hilangnya struktur tegakan pohon dan lapisan serasah menyebabkan tanah kehilangan kemampuan menahan air, sehingga limpasan meningkat hingga 35–60% pada DAS yang mengalami deforestasi berat (Asdak, 2018). Dalam konteks silvikultur, hilangnya strata vegetasi menyebabkan menurunnya kohesi tanah, berkurangnya infiltrasi, serta melemahnya kemampuan hutan untuk berfungsi sebagai penyangga hidrologis (hydrological buffer). Tegakan hutan sekunder dan hutan tanaman yang dikelola dengan prinsip silvikultur intensif dapat membantu memulihkan fungsi ekologis tersebut, namun implementasinya masih terbatas.

Gambar 2. Grafik kehilangan hutan Indonesia termasuk Sumatera (Sumber: Global Forest Watch).
Data dari Global Forest Watch menunjukkan adanya penurunan tutupan lahan hutan primer di Sumatera. Dari tahun 2002 sampai 2024, Sumatera Utara kehilangan 390 kha hutan primer basah, menyumbang 25% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basah di Sumatera Utara berkurang 19% dalam periode waktu ini. Perubahan tata guna lahan yang tidak terencana semakin memperburuk dampak krisis iklim. Penelitian Austin et al. (2019) menunjukkan bahwa hilangnya tutupan hutan primer di Sumatera telah mengubah karakteristik hidrologi DAS secara signifikan, meningkatkan durasi dan frekuensi banjir bahkan pada curah hujan moderat. Hal ini diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif dan El Niño Modoki yang menyebabkan anomali curah hujan ekstrem di beberapa wilayah (IPCC, 2023). Dengan kondisi ekosistem yang tertekan, Sumatera menjadi salah satu contoh paling jelas bagaimana kombinasi krisis iklim dan kerusakan lingkungan dapat menghasilkan bencana yang berulang dan semakin sulit dikendalikan.
Dari perspektif kehutanan, pendekatan silvikultur berbasis lanskap (landscape-based silviculture) menjadi krusial. Teknik-teknik seperti penanaman kembali dengan spesies lokal yang toleran genangan, pengayaan (enrichment planting), penggunaan sistem agroforestri, perbaikan tapak (site improvement), serta rehabilitasi daerah penyangga sungai (riparian buffer) terbukti mampu menurunkan risiko banjir dengan meningkatkan serapan air, memperkuat struktur tanah, dan memulihkan mikroklimat lokal (Jaya et al., 2024). Penerapan silvikultur intensif pada hutan tanaman juga dapat berkontribusi melalui pengaturan jarak tanam, pemilihan jenis berakar dalam, serta pengelolaan tajuk untuk meningkatkan kapasitas infiltrasi.

Gambar 3. Gelondongan kayu terbawa banjir (Sumber: Kompas).
Banjir di Sumatera bukan sekadar bencana alam semata, tetapi peringatan keras bahwa ekosistem telah berada pada titik kritis. Upaya menghadapi krisis iklim tidak dapat mengandalkan mitigasi parsial; perlu integrasi antara kebijakan pengurangan emisi, pengelolaan hutan berkelanjutan, restorasi ekosistem, dan adaptasi berbasis komunitas. Jika rehabilitasi hutan dilakukan menggunakan prinsip silvikultur adaptif dan berbasis data klimatologis, maka Sumatera memiliki peluang untuk memulihkan daya dukung lingkungannya sekaligus mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Daftar Pustaka
Asdak, C. (2018). Hidrologi dan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Gadjah Mada University Press.
Austin, K. G., Schwantes, A., Gu, Y., Austin, K.G., Schwantes, A., Gu, Y. and Kasibhatla, P.S. (2019) What Causes Deforestation in Indonesia? Environmental Research Letters, 14, Article 024007.
Kasibhatla, P. S. (2022). An assessment of hydrological impacts of deforestation in Indonesia. Environmental Research Letters.
BMKG. (2024). Laporan Analisis Iklim Indonesia 2024. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.
IPCC. (2023). Sixth Assessment Report: Impacts, Adaptation, and Vulnerability. Intergovernmental Panel on Climate Change.
Jaya, A., Dohong, S., Page, S. E., Saptono, M., Supriati, L., Winerungan, S., … & Widiastuti, L. (2024). Agroforestry as an approach to rehabilitating degraded tropical peatland in Indonesia. Journal of Degraded and Mining Lands Management, 11(2), 5453-5474.
KLHK. (2023). Status Hutan dan Kehutanan Indonesia. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.