Kembalikan Fungsi Hutan Mangrove dengan Rehabilitasi

source : theconversation.com

 

Menurut Majid dkk. (2016), hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi yang umumnya tumbuh pada daerah intertidal dan subtidal yang cukup mendapat aliran air. Biasanya, hutan mangrove terdapat di daerah pantai yang terus menerus atau berurutan terendam dalam air laut dan dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Hutan mangrove ini memiliki peranan penting, baik dari aspek ekonomi maupun aspek ekologi.

Ditinjau dari aspek ekonomi, hutan mangrove memiliki potensi kekayaan hayati yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf ekonomi masyarakat (Turisno dkk., 2018). Potensi kekayaan tersebut dapat berupa kayu yang dapat dimanfaatkan sebagai kayu konstruksi, bahan kayu bakar, bahan pembuatan arang, serta bahan pembuatan kertas. Selain itu masyarakat dapat memanfaatkan berbagai flora sebagai bahan obat-obatan serta melakukan budidaya ikan di hutan mangrove mengingat ketersediaan makanan yang berlimpah.Selain itu, hutan mangrove dapat dijadikan sebagai tempat wisata yang tentunya berpotensi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.

Apabila ditinjau dari aspek ekologi, hutan mangrove berperan sebagai pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, serta sebagai habitat berbagai jenis burung dan hewan lain (Kustanti dalam Karimah, 2017). Hal ini sejalan dengan pernyataan Baderan (2017) yang menyebutkan bahwa mangrove dapat berfungsi untuk menjaga garis pantai supaya tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai dari proses abrasi, serta meredam dan menahan hempasan badai tsunami. Selain itu, mangrove juga berperan sebagai kawasan penyangga proses rembesan air laut ke darat. Selanjutnya, hutan mangrove dapat menyediakan jasa lingkungan berupa penyimpanan karbon. Dinilihuda dkk. (2018) menyatakan bahwa hutan mangrove berpotensi menyerap karbon lebih banyak dibandingkan dengan beberapa tipe hutan lain karena mangrove termasuk ke dalam hutan lahan basah. Maka dari itu, mangrove juga berperan dalam mitigasi perubahan iklim karena dapat mengurangi kadar CO2 di udara melalui penyerapan dan penyimpanan karbon.

Namun sayangnya, data menunjukkan bahwa laju deforestasi mangrove di Indonesia cukup tinggi yaitu dari tahun 1950-2005 terjadi deforestasi sebesar 52.000 ha/tahun (Tampubolon, 2017). Menurut Ambari (2020), terdapat 1,8 juta ha yang kondisinya kritis dari 3,4 juta luasan mangrove di Indonesia. Padahal, apabila terjadi kerusakan atau deforestasi pada hutan mangrove maka akan menyebabkan terganggunya fungsi mangrove sebagaimana mestinya. Salah satu langkah yang dapat diambil untuk menanggulangi deforestasi yaitu rehabilitasi hutan mangrove. Menurut PP Nomor 76 Tahun 2008, rehabilitasi hutan dan lahan adalah upaya untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga. Berikut merupakan peran penting rehabilitasi hutan mangrove:

  1. Menjaga roda perekonomian masyarakat sekitar

Rehabilitasi mangrove dapat menekan laju deforestasi khususnya pada ekosistem mangrove sehingga dapat mencegah kehilangan biodiversitas yang lebih banyak serta dapat mengembalikan biodiversitas yang sebelumnya hilang. Rehabilitasi dilakukan dengan mengembalikan berbagai vegetasi mangrove sesuai dengan zona penyebarannya melalui kegiatan penanaman. Kembalinya berbagai vegetasi tersebut tentunya akan menyediakan habitat bagi beragam fauna di kawasan mangrove. Flora dan fauna di hutan mangrove tersebut merupakan sumber penghasilan bagi masyarakat. Maka dari itu, adanya kegiatan rehabilitasi dapat membuat roda perekonomian masyarakat terus berjalan.

  1. Mengembalikan fungsi mangrove sebagai sistem penyangga kehidupan

Sebagai sistem penyangga kehidupan, mangrove dapat menjadi peindung kawasan peisisir karena hutan mangrove mampu menjadi pemecah serta gelombang air laut. Adanya rehabilitasi tentu saja dapat mengembalikan fungsi mangrove sebagai pelindung kawasan sehingga kerusakan yang ditimbulkan oleh gelombang, abrasi, serta badai dapat berkurang. Jika kawasan pesisir dapat terlindung maka kawasan di belakangnya dapat dimanfaatkan untuk area pertanian masyarakat sekitar. Di samping itu, mangrove juga berperan dalam menjaga kualitas air karena perakaran mangrove dapat mengurangi materi tersuspensi dalam air kemudian mendeposisikannya sehingga dapat meningkatkan oksigen terlarut. Perakarannya pun dapat menyerap dan mengurangi polutan dalam sedimen lumpur serta mengatur pergerakan sedimen. Oleh karena itu, rehabilitasi mangrove dapat turut berkontribusi dalam perbaikan kualitas air.

  1. Mengembalikan fungsi mangrove sebagai penyimpan karbon

Menurut Rahma dkk. (2015) dalam Dinilhuda dkk. (2018), hutan mangrove mampu mereduksi CO2 melalui mekanisme “sekuestrasi” yang merupakan penyerapan karbon dari atmosfer dan penyimpanannya dalam bentuk biomassa yang mencapai 296 ton C/ha. Ketika hutan mangrove dipulihkan maka hutan mangrove pun dapat kembali menjalankan fungsinya sebagai penyimpan karbon. Hal ini tentu saja dapat mengurangi jumlah emisi karbon di udara sehingga dapat berkontribusi dalam mitigasi perubahan iklim global.

  1. Menyediakan berbagai sumber daya untuk masyarakat pesisir

Rehabilitasi mangrove akan memulihkan sumber daya alam berupa flora dan fauna yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat peisisir. Berbagai jenis flora di hutan mangrove dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan, contohnya Avicennia alba yang bermanfaat untuk mengobati luka dan penyakit cacar serta Lumnitzera racemosa yang dapat dimanfaatkan sebagai obat sariawan. Beberapa jenis tumbuhan seperti Rhizopora mucronata dan Rhizopora apiculata dapat dimanfaatkan kayunya sebagai kayu bakar dan bahan baku arang. Sementara itu, fauna yang mendominasi hutan mangrove yaitu fauna dari kelompok Crustaceae contohnya udang, kepiting, dan lobster serta fauna dari kelompok Molusca contohnya kerang dan siput.  Jenis-jenis fauna tersebut merupakan bahan makanan yang memiliki nilai gizi yang tinggi sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat pesisir.

 

Oleh : Marliana Ega Pradita

Editor : Galang Rama Asyari

 

Source :

Ambari, M. 2020. Harapan Baru Rehabilitasi Mangrove di Lokasi Kritis. Diakses dari https://www.mongabay.co.id/2020/11/10/harapan-baru-rehabilitasi-mangrove-di-lokasi-kritis/ pada 24 Februari 2021 pukul 11:25 WIB.

Baderan, D.W.K. 2017. Distribusi Spasial dan Luas Kerusakan Hutan Mangrovedi Wilayah Pesisir Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo. Jurnal Geoec. 3(1): 1-8.

Dinilhuda, A., Akbar, A.A., dan Jumiati. 2018. Peran Ekosistem Mangrove bagi Mitigasi Pemanasan Global. Jurnal Teknik Sipil. 18(2): 488-496.

Karimah. 2017. Peran Ekosistem Hutan Mangrove sebagai Habitat untuk Organisme Laut. Jurnal Biologi Tropis. 17(2): 51-58.

Prasetyo, D.P.B., Nuraini, R.A.T. dan Supriyantini, E. 2017. Estimation Carbon Stock on Mangrove Vegetation at Mangrove Area of Ujung Piring Jepara District. International Journal of Marine and Aquatic Resource Concervation and Co-existence. 2(1): 38-45.

Tampubolon, A. 2017. Mangrove Memelihara Bentang Kehidupan, Lahan, dan Laut. Media Brief. 5: 1–4.

Turisno, B.E., Suharto, R. dan Priyono, E.A. 2018. Peran Serta Masyarakat dan Kewenangan Pemerintah dalam Konservasi Mangrove sebagai Upaya Mencegah Rob dan Banjir serta sebagai Tempat Wisata. Jurnal Masalah-Masalah Hutan. 47(4): 479-497.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.