Hama Kutu Lilin (Pineus boerneri) pada Pinus

Pineus boerneri atau kutu lilin merupakan hama tanaman pinus yang sangat sulit untuk diatasi. Pineus boerneri. Hama kutu lilin merupakan serangga dari ordo hemiptera yang menyerang tanaman pinus pada semua tingkat umur. Hama ini merupakan hama baru yang datang dari luar Indonesia (eksotik) yang memiliki habitat di berbagai wilayah seperti Benua Amerika, Oceania, dan Afrika (CABI, 2020). Kutu lilin bertubuh lunak, berbentuk bulat, berwarna kuning kecoklatan, berukuran kecil (±1 mm), serta tinggal dan berreproduksi di pucuk bagian luar dari pohon pinus. Kutu betina mempunyai ovipositor, rostrum yang panjang, 4 pasang spirakel pada abdomen dan tidak aktif (sessile). Populasi ineus boerneri sangat cepat berlipat ganda karena merupakan jenis kutu yang aseksual sepanjang tahun, yakni jenis yang tidak tergantung musim dan dapat memproduksi telur secara partenogenesis (berkembang biak tanpa perkawinan). Bila satu petak tanaman pinus diketahui telah terserang, maka sangat mungkin bahwa pohon-pohon di petak-petak sekitarnya akan terserang pula, namun dengan populasi hama yang relatif rendah sehingga belum menunjukkan efek merusak (Laela dalam Furqan, 2012). read more

Baca Selengkapnya

STOMATA

source : xmol.com

Daun adalah organ pokok pada tanaman yang umumnya berbentuk pipih bilateral dan berwarna hijau. Daun merupakan tempat terjadinya proses fotosintesis, sehingga memiliki struktur mulut daun yang berfungsi untuk pertukaran gas O2, CO2, dan uap air dari daun ke alam sekitar dan begitu pula sebaliknya (Sumardi, dkk., 2010). Mulut daun tersebut terkenal dengan nama stomata. Stomata pada daun berupa lubang atau celah yang terdapat pada epidermis organ tumbuhan yang berwarna hijau yang dibatasi oleh sel khusus yang disebut sel penutup. Sel penutup dikelilingi oleh sel-sel yang bentuknya sama atau berbeda dengan sel-sel epidermis lainnya dan disebut sel tetangga. Sel tetangga berperan dalam perubahan osmotik yang menyebabkan gerakan sel penutup yang mengatur lebar celah (Sumardi, dkk., 2010). read more

Baca Selengkapnya

Pengaruh Cahaya Terhadap Proses Fotosintesis

Pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu fakrot internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari kualitas genetik, sedangkan faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar atau lingkungan sekitar. Salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman adalah cahaya. Cahaya matahari sangat berpengaruh terhadap proses fisiologi tanaman seperti fotosintesis, respirasi, pertumbuhan serta pembungaan, pembukaan dan penutupan stomata, serta perkecambahan dan pertumbuhan tanaman. Sifat cahaya matahari yang mempengaruhi pertumbuhan yaitu intensitas cahaya, kualitas cahaya (panjang gelombang) dan lamanya penyinaran (panjang hari) (Susilawati dkk., 2016). read more

Baca Selengkapnya

Manipulasi Lingkungan Shorea balangeran pada Lahan Gambut

Shorea balangeran atau penduduk lokal menamainya balangeran, blangir, kahoi, atau kawi, merupakan spesies pohon dari famili Dipterocarpaceae. Shorea balangeran tersebar dari mulai Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah (Martawijaya et al., 1989).  Balangeran dapat tumbuh mencapai 20 – 25 meter dengan tinggi batang bebas cabang mencapai 15 meter. Kayu dari pohon ini tergolong kelas kuat II dengan berat jenis 0,86, sehingga sangat cocok untuk kegunaan bahan bangunan (Martawijaya et al., 1989). Hasil beberapa penelitian menunjukkan senyawa fitokimia pada kulit kayu Shorea balangeran berfungsi sebagai antioksidan (Wardani dan Susilo, 2016). read more

Baca Selengkapnya

Serangan (Hyblaea puera) yang Merugikan

Telah kita ketahui, bahwa salah satu serangga yang dianggap sebagai hama ialah ulat. Hal ini karena ulat biasa menyerang tanaman terkhusus daunnya, serta memiliki siklus hidup singkat sehingga menyebabkan perkembangbiakannya sangat pesat. Akibat dari serangan ulat tersebut, banyak pohon yang terganggu proses fisiologis, khususnya fotosintesis karena banyak dedaunan rusak setelah dimakan ulat.

Salah satu ulat yang banyak ditemui ialah ulat Hyblaea puera. Ulat Hyblaea puera Cr. adalah serangga yang memakan daun Jati hingga habis (Husaeni, 1997). Serangan ulat jenis ini terjadi saat pergantian musim kemarau ke musim penghujan. Ulat Hyblaea puera Cr. akan memakan daun jati hingga menyisakan tulang daun primernya saja. Ulat ini juga ditemukan pada daun jati yang menggulung. Berdasarkan hasil penelitian Umarela dan Karepseina (2011), menyebutkan bahwa ulat Hyblaea puera Cr akan memakan seluruh jaringan daun, dari bagian yang lunak hingga menyisakan urat dan tulang daunnya saja. read more

Baca Selengkapnya

Program Rehabilitasi Mangrove

Hutan mangrove memiliki beragam manfaat baik dalam aspek ekologi, aspek fisik, maupun aspek sosial kemasyarakatan. Peranan hutan mangrove sebagai suatu ekosistem antara lain sebagai pelindung garis pantai, penggumpal lumpur, pembentuk lahan, habitat alami berbagai flora dan fauna, daerah asuhan beberapa binatang akuatik, serta sebagai sumber pendapatan manusia seperti tambak ikan, garam, dan kegiatan pertambangan (Budiman dan Suhardjono, 1992).

Meningkatnya kegiatan pemanfaatan dengan cara yang salah sehingga merusak mangrove mengakibatkan degradasi dan penurunan luasan mangrove sehingga perlu dilakukan upaya perbaikan kondisi maupun pemeliharaan ekosistem mangrove. Salah satu upaya perbaikan dapat dilakukan dengan program rehabilitasi ekosistem mangrove. Rehabilitasi terdiri dari berbagai macam kegiatan, termasuk kegiatan restorasi dan penciptaan kembali habitat baru dari sistem yang telah menurun fungsinya menjadi stabil (Stevenson et al., 1999). Program rehabilitasi telah banyak dilakukan baik oleh dinas terkait maupun lembaga sosial masyarakat yang didukung oleh masayarakat sekitar. Namun, sayangnya program rehabilitasi mangrove seringkali hanya dilakukan dengan kegiatan penanaman kembali bibit mangrove tanpa monitoring ataupun evaluasi (Field, 1996). read more

Baca Selengkapnya

Embun Tepung

sumber: Ilmubudidaya.com

Penyakit embun tepung pada tanaman sering terjadi ketika musim pertunasan, ditandai dengan adanya lapisan tepung putih pada bagian atas daun, hal ini dapat menyebabkan daun mengalami malformasi (mengering akan tetapi tidak gugur). Gejala yang ditimbulkan merupakan gejala nekrosis seperti daun berkerut dan daun berubah warna menjadi kuning hingga kecoklatan. Tanda yang ditunjukkan pada tanaman yang terserang embun tepung yaitu adanya bercak putih pada daun dan batang.

Fase kritis serangan serangan embun tepung terjadi pada periode pertunasan, khususnya pada daun muda yang sedang tumbuh dan buah muda. Kumpulan tepung putih pada daun, tunas, dan buah muda merupakan masa konidia jamur Oidium tingitanium yang menyerang bagian daun menyebabkan serangan patogen jamur ini lebih dikenal dengan nama penyakit embun tepung (Sumartini dan Mudji , 2017). Penyakit ini dapat terjadi pada varietas yang rentan, adanya sumber patogen di sekitar kebun, dan musim kemarau yang lembab. Suhu tinggi dalam beberapa jam yang kemudian terjadi hujan, akan memicu perkecambahan konidia jamur yang berada di atas permukaan daun. Kemudian penetrasi akan terjadi dalam beberapa jam setelah perkecambahan konidia. read more

Baca Selengkapnya

Pohon Kayu Putih (Melaleuca cajuputi)

source : krcibodas.lipi.go.id

Kayu putih (Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi) secara taksonomi diklasifikasikan ke dalam divisi Spermatophyta, sub divisi Angiospermae, kelas Dicotyledonae, ordo Myrtales, famili Myrtaceae, genus Melaleuca, dan spesies Melaleuca cajuputi, Sub spesies Melaleuca cajuputi subsp. cajuputi (Craven dan Barlow, 1997). Tanaman ini merupakan salah satu jenis penghasil minyak atsiri yang cukup menjanjikan. Kebutuhan kayu putih di Indonesia yang mencapai angka 1500 ton per tahun baru dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri kurang lebih 500 ton per tahun. Angka tersebut sangat jauh dari permintaan kebutuhan kayu putih di dalam negeri, sehingga saat ini kayu putih terus dibudidayakan secara komersial agar kebutuhan industri dapat terpenuhi  (Kartikawati dkk., 2014). read more

Baca Selengkapnya

Jamur Arbuskular Mikoriza sebagai Solusi Penanganan Tanah Tercemar

Gambar Jamur Arbuskular Mikoriza di bawah mikroskop

Sumber : Deguchi et al., 2017

Urbanisasi dan industrialisasi akhir dekade ini mengalami pertumbuhan yang pesat. Seiring dengan berkembangnya urbanisasi dan industrialisasi maka peningkatan kontaminasi khususnya terhadap tanah juga semakin tinggi akibat limbah yang dihasilkan oleh kedua sektor tersebut. Kerusakan tanah karena keberadaan zat kontaminan dapat menyebabkan tanah sulit untuk ditumbuhi oleh tanaman. Dampak dari hal tersebut adalah gagalnya proses rehabilitasi pada daerah-daerah dengan tanah terkontaminasi. Kontaminan dari sektor urbanisasi dan industrialisasi antara lain adalah Kadmium (Cd), Timbal (Pb), Merkuri (Hg), dan Arsenik (As) yang tidak memiliki fungsi biologis (Cabral et al., 2015). Apabila keberadaan logam-logam tersebut di alam melebihi ambang batas maka dapat bersifat toxic pada tanaman. Aternatif yang dapat diterapkan untuk menangani hal tersebut adalah melalui penggunaan teknologi fitoremediasi. read more

Baca Selengkapnya